<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Persinggahan Taufan Hidayat &#187; Rekomendasi Buku</title>
	<atom:link href="http://taufanhidayat.wordpress.com/category/rekomendasi-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taufanhidayat.wordpress.com</link>
	<description>Tak ada keyakinan tanpa pengetahuan, tak ada Surga tanpa tindakan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Jan 2009 21:38:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='taufanhidayat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/03504c776f23880fa67bf6cd6a3fb509?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Persinggahan Taufan Hidayat &#187; Rekomendasi Buku</title>
		<link>http://taufanhidayat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://taufanhidayat.wordpress.com/osd.xml" title="Persinggahan Taufan Hidayat" />
		<item>
		<title>Resensi buku</title>
		<link>http://taufanhidayat.wordpress.com/2008/03/19/resensi-buku/</link>
		<comments>http://taufanhidayat.wordpress.com/2008/03/19/resensi-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 07:18:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rekomendasi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufanhidayat.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Kompas Online, Minggu, 14 Januari 1996
ISU-ISU BESAR DENGAN PENDEKATAN DIALOGIS
Soetjipto Wirosardjono, Dialog dengan Kekuasaan: Esai-esai tentang Agama, Negara dan Rakyat (Mizan, Bandung: 1995) xiv + 311 halaman (termasuk indeks).
____________________________________________________________
APAKAH yang terbayang oleh Anda, jika kata &#8220;kekuasaan&#8221; diketengahkan dalam perbincangan? Jawaban tentu saja bisa beragam. Sebagian orang -lebih-lebih yang memiliki trauma politik &#8211; melihat kekuasaan sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufanhidayat.wordpress.com&blog=3215868&post=39&subd=taufanhidayat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://taufanhidayat.files.wordpress.com/2008/03/books.jpg" title="books.jpg"><img src="http://taufanhidayat.files.wordpress.com/2008/03/books.thumbnail.jpg" alt="books.jpg" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0" /></a><font color="#800000"><i>Kompas Online, </i></font><span style="color:teal;"><font color="#800000">Minggu, 14 Januari 1996</font></span></p>
<p><b><span style="color:green;">ISU-ISU BESAR DENGAN PENDEKATAN DIALOGIS</span></b><br />
Soetjipto Wirosardjono, <i>Dialog dengan Kekuasaan: Esai-esai tentang Agama, Negara dan Rakyat </i>(Mizan, Bandung: 1995) xiv + 311 halaman (termasuk indeks).</p>
<p>____________________________________________________________</p>
<p align="justify"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;   &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->APAKAH yang terbayang oleh Anda, jika kata &#8220;kekuasaan&#8221; diketengahkan dalam perbincangan? Jawaban tentu saja bisa beragam. Sebagian orang -lebih-lebih yang memiliki trauma politik &#8211; melihat kekuasaan sebagai tembok baja. Alih-alih mencari solusi, kelompok pertama ini mengandaikan dialog dengan kekuasaan sama saja membenturkan muka dengan tembok baja tadi.Sebaliknya, bagi sebagian orang yang lainmenganggap kekuasaan adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan, atau bahkan tujuan itu sendiri.<span id="more-39"></span></p>
<p align="justify">Kekuasaan dapat digunakan untuk merampas, menindas, atau menekan hak dan milik seseorang maupun kelompok. Kekuasaan seolah segala-galanya.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Tampaknya, di antara kedua ekstrem tersebut pakar statistik ini ingin berdiri. Dalam kata pengantar buku ini, misalnya, ia coba mengetengahkan pendapat itu, &#8220;Dialog dengan kekuasaan bisa juga merupakan suatu impian yang mustahil terwujud&#8230; (hlm. ix).</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Sikap dialogis yang coba ditampilkan dalam kolom-kolom Soetjipto Wirosardjono memang sangat dominan. Ia bukan hanya mengritik birokrasi beserta oknumnya, tetapi juga masyarakat yang sering menggoda, merayu, dan tindakan-tindakan jalan pintas lainnya.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Pengalamannya sebagai birokrat, memberikan ilustrasi akan pandangannya di atas. Di bawah judul Birokrat: Patriot atau Parasit misalnya, ia menulis, birokrat tidak bisa lepas dari adanya godaan dan bahkan rongrongan permintaan pelayanan yang menuntut atau menggoda agar mereka menyimpang dari aturan baku. Birokrat yang waras dan normal<br />
biasanya menghadapi persoalan ini sebagai tantangan yang harus diatasi; dia dengan akan sekuat tenaga berusaha tetap berpegang teguh pada aturan dan semangat serta kode etik sapta prasetianya (hlm. 141).</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Sikap serupa juga tampak ketika ia menghadapi berbagai tudingan terhadap ICMI (hlm. 15). ***</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">TAMPAKNYA sikap dialogis ini, lebih lanjut diharapkan penulisnya dapat memberikan gambaran jernih terhadap berbagai persoalan, dan bukan sekadar gambar jernih yang diharapkannya, tetapi upaya pemberdayaan bagi siapa pun yang mendapatkan tindakan tidak fair.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Pada bagian terakhir buku ini, ketika membahas sektor informal, misalnya, ia menulis: Karena ini pemerintahan rakyat Indonesia, kebijaksanaannya tentu memihak (kepada) bagian terbesar rakyat kita pula. Bagian terbesar itu bekerja di sektor tradisional dan informal.<br />
Bila hakekat pembangunan Indonesia adalah membangun manusia seutuhnya dan masyarakat seluruhnya, mereka itulah sasaran strategis yang mesti dirujuk&#8230;</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Berbeda dengan gaya tutur Emha Ainun Nadjib yang menggunakan langgam ludruk jawa timuran, Mas Cip (demikian penulis buku ini biasa dipanggil) tampaknya lebih dekat dengan gaya &#8220;harmoni&#8221; pedalangan. Meski menurut pengakuannya lebih dekat dengan budaya pesisiran Jawa, gaya pendekatan kolom Mas Cip lebih dekat dengan &#8220;harmoni&#8221; Jawa.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Sikapnya ini bukannya tanpa alasan. Ia misalnya, mengidentikkan budaya Jawa dengan budaya Jepang: Budaya Jawa dan budaya Jepang itu sama-sama beranjak dari peradaban tani. Orang yang dekat dengan tanah. Karena itu sangat konservatif dan menghargai sekali harmoni. Musuh budaya pertanian adalah ketidakpastian dan risiko. Dulu, karena alam dan hama, sekarang karena ketidakpastian harga dan teknologi.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Orang Jepang sangat menjunjung tinggi hierarki sosial. Yang tua didahulukan. Yang muda hormat pada yang senior. Prestasi selalu diakui sebagai kerja kelompok. Tidak ada orang Jepang yang mengagung-agungkan prestasi pribadi. Semua filsafat manajemennya juga menggarisbawahi kerja kelompok. Bukankah budaya Jawa, puncak-puncak ajarannya,<br />
mengajarkan nilai yang serupa? (hlm. 278).</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Seperti diungkap dalam kata pengantar penulisnya, buku Dialog dengan Kekuasaan ini hanyalah bagian dari banyak spektrum yang menjadi perhatiannya, di samping itu kolom-kolom yang terkumpul ini juga bukanlah kolom-kolom terbarunya. Namun, meskipun demikian, tema-tema besar yang diangkat buku ini masih tetap relevan.***</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><font color="#993300">(<i>Taufan Hidayat</i>, alumnus IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)</font></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufanhidayat.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufanhidayat.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufanhidayat.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufanhidayat.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufanhidayat.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufanhidayat.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufanhidayat.wordpress.com&blog=3215868&post=39&subd=taufanhidayat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufanhidayat.wordpress.com/2008/03/19/resensi-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d6fbbdeb2998d5b217c96287841fc61?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufan Hidayat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufanhidayat.files.wordpress.com/2008/03/books.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">books.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Buku-buku Ajip Rosidi Terbitan Nuansa</title>
		<link>http://taufanhidayat.wordpress.com/2008/03/15/buku-buku-ajip-rosidi-terbitan-nuansa/</link>
		<comments>http://taufanhidayat.wordpress.com/2008/03/15/buku-buku-ajip-rosidi-terbitan-nuansa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 11:29:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Taufan Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rekomendasi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taufanhidayat.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Buku-buku Ajip Rosidi Terbitan Nuansa
1. Roro Mendut.
Diterbitkan pertama kali pada 1961 ohingga cetakan keempat pada 1985 oleh Gunung Agung, buku ini pada 2008 diterbitkan kembali oleh Nuansa sebagai cetakan kelima. Ini adalah kisah percintaan Roro Mendut dan Pronocitro hingga titik darah penghabisan. Keinginan hidup bersama di dunia terhalang oleh keris Tumenggung. Karya ini merupakan saduran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufanhidayat.wordpress.com&blog=3215868&post=47&subd=taufanhidayat&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://taufanhidayat.files.wordpress.com/2008/03/art.gif" title="art.gif"><img src="http://taufanhidayat.files.wordpress.com/2008/03/art.thumbnail.gif?w=179&#038;h=163" alt="art.gif" style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" border="0" height="163" width="179" /></a><b><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:maroon;">Buku-buku Ajip Rosidi Terbitan Nuansa</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">1. Roro Mendut.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Diterbitkan pertama kali pada 1961 ohingga cetakan keempat pada 1985 oleh Gunung Agung, buku ini pada 2008 diterbitkan kembali oleh Nuansa sebagai cetakan kelima. Ini adalah kisah percintaan Roro Mendut dan Pronocitro hingga titik darah penghabisan. Keinginan hidup bersama di dunia terhalang oleh keris Tumenggung. Karya ini merupakan saduran dari cerita Roro Mendut dan Pronocitro karya R Ng Ronggosutrasno pada 1820. Ia menggunakan karya dalam bahasa Jawa dan membandingkannya dengan karya terjemahannya dalam Indonesia. Ajip merombaknya di sana-sini, menambah dan mengurangi.</span><span id="more-47"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">2. Candra Kirana.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Inilah buku terbaru Ajip. Diterbitkan perama kali pada 2008 oleh Nuansa, Candra Kirana merupakan saduran dari cerita panji. Raden Panji adalah putra mahkota Kerajaan Janggala. Ia yang dijodohkan dengan Dewi Sekar Taji dari Kerajaan Kadiri, memilih jatuh cinta pada Dewi Anggraeni, gadis desa. Apa yang dilakukan Raja Janggala melihat penentangan putra mahkotanya itu? Bagaimana upaya menyatukan kembali Janggala dan Kadiri? Bagaimana nasib Dewi Anggraeni demi ambisi menyatukan dua kerajaan yang sebelumnya merupakan satu kerajaan itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">3. Badak Pamalang.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ajip Rosidi menceritakan kisah Badak Pamalang ini secara apa adanya berdasarkan pantun-pantung dari Sukabumi, Kuningan, Subang, dan Sumedang. Buku yang diterbitkan perdana pada 1975 dan terbit ulang pada 2008 ini tidak ditulis sebagai versi baru berdasarkan visi penulis. Buku ini berkisah tentang bayi yang lahir sangat mulus. Diberi berbagai nama, tetap saja tak cocok baginya, hingga ia disepak dan terlontar ke angkasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">4. Sang Kuriang Kesiangan.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dicetak perdana pada 1961, pada 2007 Nuansa menerbitkan ulang. Inilah legenda asal mulanya Gunung Tangkuban Parahu, di Lembang, Jawa Barat. Kisahnya, Sang Kuriang jatuh cinta pada seseorang, yang ia tidak tahu bahwa orang itu adalah ibunya. Sang Bunda yang mengetahui belakangan, memberi syarat agar Sang Kuriang tak jadi suaminya. Apa yang menyebabkan Sang Kuriang harus menendang perahu hingga terbalik?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">5. Purba Sari Ayu Wangi atawa Lutung Kasarung</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Nyi Purba Sari Ayu Wangi adalah tujuh bersaudara. Tapi, enam suadaranya bersekonngkol menyingkirkannya. Inilah kisah kebenaran melawan kebatilan. Keadilan melawan ketidakadilan. Purba Sari adalah sosok yang tidak manja. Padahal dia anak bungsu lho. Kehadiran Lutung Kasarung (kera) ikut membantunya mengatasi penderitaan. Ajip Rosidi mengisahkan kembali cerita rakyat Sunda yang dulu dianggap paling keramat ini. Cetakan pertama pada 1962, dan pada 2008 memasuki cetakan ke-8. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">6. Ciung Wanara.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ajip Rosidi menulis kisah ini pada 1961, dan diterbitkan ulang pada 2007. Ciung Wanara adalah cerita rakyat Jawa Barat. Berkisah tentang Ciung Wanara yang berkelana mencari orang tuanya. Ciung Wanara adalah putra Raja Galuh, yang dibuang, karena ibunya mendapat fitnah dari istri lain Raja Galuh itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">7. Jalan ke Surga atawa Si Kabayan.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ini adalah buku kumpulan cerita rakyat Sunda. Ada sosok Si Kabayan yang dikenal sebagai pemalas, ada pula cerita-cerita fabel. Inilah kumpulan nilai-nilai moral yang masih berguna untuk masa kini. Ada 15 cerita yang disusun di buku ini. Ajip Rosidi menuliskan ulang dengan gaya ringan. Diterbitkan perdana pada 1961 oleh Gunung Agung, dan pada 2008 ini, Nuansa mencetaknya kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><b><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">8. Mundinglaya Di Kusumah.</span></b></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Mundinglaya adalah putra Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi. Ia sering mendapat hinaan. Mundinglaya harus berada di penjara, dan di sanalah ia menyucikan diri, sehingga ia bisa menemukan layangan Salaka Emas yang diimpikan Prabu Siliwangi. Padahal, layangan Salaka Emas itu dikuasai oleh Guriang Tujuh yang sakti mandraguna. Bagaimana Mundinglaya menaklukkan Guriang Tujuh? Ajip Rosidi menceritakannya kembali cerita rakyat Sunda ini untuk Anda lewat buku yang diterbitkan pertama kali pada 1961 itu, dan diterbitkan ulang pada 2007 oleh Nuansa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#339966;">Republika, Minggu, 02 Maret 2008</span></i></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><i><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:#339966;">http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=325608&amp;kat_id=319</span></i></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taufanhidayat.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taufanhidayat.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taufanhidayat.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taufanhidayat.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taufanhidayat.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taufanhidayat.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taufanhidayat.wordpress.com&blog=3215868&post=47&subd=taufanhidayat&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taufanhidayat.wordpress.com/2008/03/15/buku-buku-ajip-rosidi-terbitan-nuansa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6d6fbbdeb2998d5b217c96287841fc61?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Taufan Hidayat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://taufanhidayat.files.wordpress.com/2008/03/art.thumbnail.gif" medium="image">
			<media:title type="html">art.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>