Oleh: Taufan Hidayat | April 13, 2008

Uang, uang, uang………

uang2Soal Uang, Inilah Posisi Anda!

Rambut bisa sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda, begitulah juga dalam mengelola uang. Kita bekerja keras setiap hari untuk mendapatkan penghasilan, beberapa dari kita bahkan mendapatkan lebih besar dibandingkan yang lainnya.

Namun, bagaimana cara menggunakannya berbeda. Ada yang cenderung menghabiskan uangnya segera, menyimpannya untuk digunakan lagi di masa depan. Beberapa orang cenderung terus-menerus menyimpan uangnya, dan hanya sedikit yang bisa mendayagunakannya. Kecenderungan inilah yang akan membagi para pengguna uang menjadi
beberapa tipe.

Tidak semua tipe penggunaan uang langsung menempatkan Anda dalam kategori kebebasan finansial. Dengan mengetahui siapa diri Anda sekarang, akan membantu memetakan arah untuk mencapai posisi yang diinginkan pada masa datang.

Looser = Pecundang

Looser adalah orang yang kecanduan dan candunya adalah uang. Pada saat ketagihan, dia akan menghabiskan apa pun yang dimilikinya dan bahkan yang tidak dimilikinya. Pengeluarannya selalu lebih besar daripada penghasilannya karena memperturutkan ketergantungan yang
amat sangat pada uang untuk mengobati sesuatu. Setiap orang mempunyai lubang di hatinya, tetapi looser hanya mampu mengisinya dengan uang. Lubang itu dapat berupa apa saja – kesepian, dendam, atau rendah diri yang memicu emosi berlebihan.

Jika tidak terkendali orang menjadi butuh pelampiasan dengan berbagai macam cara. Untuk melampiaskan kemarahan, kesedihan atau kekecewaan, looser melampiaskannya dengan berbelanja. Semakin marah, sedih, kecewa maka semakin banyak belanjaannya.

Looser membutuhkan lebih banyak uang untuk mengatasi rasa sakitnya. Mereka selalu kekurangan, dan untuk menutupinya mereka mengambil dari tempat lain. Tipe pecundang arus kasnya selalu negatif atau defisit.

Kekurangan inilah yang ditutup dengan cara berutang. Akibatnya jika arus kas negatif terus menerus, jumlah beban utang juga bisa semakin berat. Looser tipikal yang selalu bangkrut. Prinsipnya, hidup akan berjalan baik-baik saja jika bisa mendapat lebih banyak uang atau
lebih banyak utang.

Shopper = Pembelanja

Ketika menerima uang, segera saja uang itu berubah menjadi belanja bulanan, tagihan telepon, listrik, air, gaji pembantu, iuran pensiun atau tabungan pendidikan anak. Seakan-akan uang dalam bentuk aslinya sebagai uang sangatlah mengganggu sehingga tipe shopper segera
menukarnya dengan bentuk lain.

Satu-satunya yang bisa menghentikan mereka adalah kalau uangnya habis. Buat pembelanja, mereka akan baik-baik saja selama pengelurannya tidak lebih dari penghasilannya. Tidak heran mereka selalu mengeluh tidak punya uang, bahkan pada saat gajian sekalipun. “Gaji cuma numpang lewat.” Prinsip hidupnya segala sesuatu akan baik-baik saja asal impas.

Tidak seperti looser yang berbelanja melebihi takaran, tipe pembelanja bahkan enggan berutang. Shopper merencanakan penggunaan uangnya dengan cermat dan mereka cukup cerdas untuk berhenti ketika uang habis.

Pengeluaran mereka selalu sama besarnya dengan penghasilan mereka. Jika penghasilan naik, secara alamiah pengeluaran naik juga. Penghasilan dan pengeluaran seperti saling berkejaran. Tidak peduli berapa kalipun sudah kenaikan gaji terjadi, sulit sekali mengumpulkan uang untuk tidak digunakan. Penghasilan yang ada sekarang jika tidak habis untuk biaya hidup masa sekarang, pasti akan digunakan untuk suatu tujuan keuangan tertentu di masa depan, misalnya membayar biaya pendidikan anak, membayar biaya hidup pensiun atau menunaikan ibadah Haji.

Keeper = Penyimpan
Kehilangan uang menakutkan. Semakin besar jumlahnya semakin menakutkan. Saya kira begitulah juga motivasi orang menabung. Kalau dipikir-pikir kegiatan menabung itu sama sekali tidak menyenangkan. Buat apa kita mendapatkan uang tetapi tidak dibelanjakan? Tetapi buat keeper jika berbelanja membuatnya kehilangan uang maka dia perlu untuk tidak menghabiskannya. Kehilangan uang membuat tipe keeper tidak aman, dan menyimpannya akan menetralisir rasa tidak aman.

Keeper tidak kesulitan untuk membayar kebutuhan hidupnya di masa sekarang. Dia juga akan mampu membiayai berbagi tujuan keuangan tertentu yang ingin dicapainya di masa depan. Di luar itu keeper bahkan menyimpan lebih banyak – untuk dirinya, untuk keluarganya. Dia tipe yang akan terus menerus mengumpulkan uang dengan tujuan untuk disimpan, lebih dari sekadar mencukupi kebutuhannya sekarang maupun di masa depan.

Sedikit demi sedikit dari hari ke hari tumpukan uangnya bertambah banyak, proses ini inilah yang amat disukainya. Dia membuat uangnya bekerja lebih keras agar bisa menghasilkan lebih banyak uang untuknya.

Developer = Pengembang
Developer tidak dikendalikan oleh uang, dia mengendalikan uang. Maka itu, dia tidak menginginkan uang kecuali jika membutuhkan sebesar yang akan digunakan untuk menjalankan rencananya.
Prinsipnya, setiap rupiah dalam sebuah portfolio berada disana untuk suatu tujuan tertentu, jika tidak, uang itu harusnya berada di tempat lain untuk tujuan lain. Developer percaya bahwa uang adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan. Jadi, dia tidak membuat rencana mengumpulkan uang, tetapi dia memiliki tujuan yang membutuhkan uang untuk mewujudkannya. Sesuai dengan namanya-developer mengembangkan/membangun sesuatu dalam ukuran masif yang hanya bisa dikerjakan dengan keterlibatan banyak orang.

Dengan tujuan besar inilah yang menyebabkan daya jangkaunya terhadap uang menjadi luas. Developer memusatkan perhatiannya pada usaha-usaha yang memberi manfaat pada masyarakat. Dia percaya bahwa terdapat korelasi positif antara tingkat kesejahteraan masyarakat dengan kemakmuran pribadi. Artinya bangunan finansial yang akan didirikannya tidak bisa diperuntukkan untuk dirinya dan keluarganya, tetapi juga untuk masyarakat luas.
Developer menjalankan rencananya langkah demi langkah secara bertahap mencapai tujuannya, proses inilah yang amat disukainya. Jika satu tujuan telah tercapai, maka dengan segera dia akan menentukan tujuan baru yang lebih baik lebih besar. Dia membuat uang bekerja lebih keras untuk mewujudkan tujuannya.

Sumber: Soal Uang, Inilah Posisi Anda oleh Mike R. Sutikno

________________________________________________________

modern.jpgUang, uang, uang, uang…….

Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu? Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia meminjam uang.

Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian
pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau
sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat
meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman
seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal
baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik kereta ke
kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy
menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan.
Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari
office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya,
sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni
terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan
harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya
berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa
punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni?

Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan,
belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang
sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan
bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling
rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah
terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya
biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak
terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali
kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy
tersebut. “Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji
saya selalu habis setelah tengah bulan.” Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. “Saya dulu juga begitu, mas.
Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa
meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin
tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang
yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang.
Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup,
apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang
lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak”

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung
kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. “Jadi bagaimana
caranya melepaskan diri dari lilitan utang?” tanya Deni.

“Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung
tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji
saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi
wejangan oleh beliau.” katanya.

Nenek saya berkata: “Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke
tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan
mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung,
maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak.”

Hidup prihatin

Waktu itu saya bertanya: “Bagaimana cara membendungnya?” Nenek saya
menjawab tegas:”Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi.”

“Tapi nanti kurang nek.”

“Tidak”, kata nenek. “Begini caranya. Begitu terima gaji, segera
lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang.
Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih
dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup.” Lalu saya diajak
menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa
untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak
boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan
raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek
karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup
ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih.”

“Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu.
Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya
sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh
saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup
sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan
saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak
pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas.
Sampai sekarang.”

Deni bertanya:”Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu
keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab.”

“Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin
menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas.”

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti
bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup
besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung
memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek. Makan siang selalu
di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah.
Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya.
Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan
membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai
kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!

Sumber: Uang oleh Lisa Nuryanti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: