Oleh: Taufan Hidayat | April 17, 2008

SELEBRITISME

Di Balik Kisah Selebriti

I’m working harder than ever now, and I’m putting on my pants the same as I always have. I just get up every day and try to do a little better than the day before. That’s my philosophy. (Emeril Lagasse, Selebriti)

Ada banyak kisah tentang selebriti yang kita dengar setiap hari. Ada begitu banyak gosip di TV dengan ragam cerita. Ada tabloid dan koran-koran yang khusus mengupas tuntas detail kehidupan mereka. Penonton dan pembacanya pun sangat banyak. Saking banyaknya, di televisi kabel, ada suatu stasiun televisi E! yang khusus membicarakan kehidupan para selebriti dunia. Kalau dibuat persentasenya, ceritanya pun kebanyakan hal yang negatif dan miring. Kisah tentang artis si anu yang masuk penjara, bercerai, lahir di luar nikah, bisnis ilegal, terjerat narkoba, dan sebagainya. Akan tetapi, banyak orang begitu ‘tersihir’ olehnya. Mengapa? Sisi gelap hidup para selebriti justru jadi daya tarik tersendiri. Secara psikologis, kita dibuat kagum dan senang plus bermimpi seandainya bisa sepopuler dan seenak kehidupan mereka. Di sini lain, kehidupan mereka ternyata tidak bahagia, tertimpa musibah, mendapat sial, dan sebagainya. Sepertinya, inilah yang menjadi sisi lain yang membuat orang bisa menyaksikan program infotainment itu dengan perasaan lega.

Nilai plus

Kali ini saya ingin mengajak Anda melihat sisi lain yang tidak banyak diberitakan dalam tabloid. Sisi lain yang tidak banyak diungkap, yang bisa kita pelajari dari para selebriti ini. Sisi lain ini adalah sisi motivasi yang bisa didapatkan dari kehidupan mereka. Pertama, mereka merupakan cermin dari potensi manusia yang optimal yang bisa kita raih. Banyak di antara selebriti ini tidak mendapatkan segalanya dengan mudah. Mereka pun berjuang dengan gigih. Saya teringat waktu Inul Daratista berkisah tentang pengalamannya jadi penyanyi dangdut yang pulang malam, dengan bayaran sangat kecil serta penilaian miring dari orang-orang di sekitarnya. Seperti itulah yang dijalani para selebriti yang kita kenal sekarang. Mereka sungguh mengajarkan kepada kita apa yang bisa kita sanggup raih dengan talenta dan potensi kita kalau saja mau berusaha. Kedua, mereka pun mengalami jatuh dan bangun serta cobaan seperti kita. Akan tetapi, mereka menunjukkan semangat yang pantang menyerah sehingga akhirnya mereka bisa sampai menjadi seperti sekarang. Kita bisa lihat sendiri bagaimana artis penyanyi, seperti Joy Tobing, Delon, Mike, Siti KDI, dan masih banyak lagi menjadi penyanyi dengan jalan yang tidak mudah. Mereka harus bersaing dan berkompetisi untuk sampai ke puncak kesuksesan. Layaklah kalau mereka mendapat bintang. Di sinilah, mereka mengajarkan kepada kita, talenta saja tanpa keinginan untuk berjuang, bersaing, dan semangat menjadi yang terbaik, serta mencoba lagi meskipun gagal, tidak akan memberikan kita kesuksesan. Ketiga, para selebriti ini juga mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Para selebriti juga manusia. Mereka juga bisa salah, khilaf, mendapatkan cobaan, dan gagal. Namun sayangnya, di masyarakat kita menempatkan seorang selebriti seperti dewa atau malaikat yang tidak boleh berbuat salah. Seakan-akan ada sebuah kontrak, ‘jadilah manusia yang sempurna, maka kamu pun akan terus saya puja’. Inilah yang membuat kadang-kadang kehidupan selebriti menjadi cukup menakutkan. Bahkan, saya ingat pernah mendengar keluhan dari anak seorang selebriti yang merasa sangat terganggu karena predikat selebriti yang telanjur melekat pada orang tuanya. Bahkan, dia sampai menangis, stres, dan berkata, “Andaikan saja saya tidak lahir dari keturunan selebriti mungkin hidup saya akan lebih normal”. Keempat, para selebriti juga menunjukkan kepada kita bahwa selalu ada ongkosnya untuk menjadi dan mempertahankan suatu popularitas dan kesuksesan. Saya masih ingat tatkala Desy Ratnasari diprotes karena sulit diwawancarai dan diminta komentarnya, karena ingin privasinya tetap dihargai. Bahkan, ada wartawan yang pernah berkomentar, “Banyak artis yang saat belum jadi apa-apa minta kita potret dan beritakan, tapi ketika udah populer malah lupa deh sama kita.” Tampaknya para artis ini lupa, bahwa selalu ada ongkos untuk menjadi populer dan salah satunya adalah kehilangan kehidupan secara bebas seperti orang normal. Bahkan, saya ingat dengan kalimat menyedihkan yang pernah dikatakan oleh Lady Di. Dia berharap seandainya dia bisa hidup seperti manusia yang normal dan wajar. Akan tetapi, itulah risiko menjadi terkenal. Dikejar-kejar wartawan. Hidupnya diamati terus. Semua orang membicarakan dan semua mata memandang kepadanya ke mana pun. Sehingga, tampaknya orang kehilangan privasi. Akan tetapi, sekali lagi, memang itulah ongkosnya. Hal ini pun mengingatkan kita bahwa kita pun mesti siap dengan segala risiko menjadi terkenal dan berhasil. Ada ongkos lain, yakni ongkos sosial yang harus kita bayar. Kelima, inilah yang juga bisa kita pelajari dari para selebriti yang tetap harus rendah hati dan harus berjuang demi masa depan. Ada banyak artis yang sangat berjaya saat masih mudah, menjadi terlalu angkuh, dan jatuh dalam kehidupan selanjutnya. Banyak di antara mereka yang berakhir dengan hidup melarat dan miskin sekali. Inilah yang perlu menjadi pelajaran penting bagi hidup kita untuk terus menjadi rendah hati dan menjadikan kesempatan sukses sekarang sebagai bagian dari persiapan hidup kita selanjutnya. Jangan sampai kita sukses sekarang, lantas berikutnya terjerumus dalam kegelapan, hanya karena karakter tidak mendukung.

Sumber: Di Balik Kisah Selebriti oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: