Oleh: Taufan Hidayat | Juni 4, 2008

Qana’ah

Qana’ah
Dalam upayanya menciptakan kekuatan, Islam telah berusaha memberi petunjuk kepada manusia untuk bersikap qana’ah (merasa cukup) dan menjauhkan diri dari rasa tamak, yang membuat seseorang terdorong untuk membutuhkan (milik) orang lain, dan telah menghadapi tuntutan kebutuhannya yang tanpa batas. Akibatnya, dia jatuh diperbudak oleh orang lain.

Rasa cukup terhadap apa yang ada pada diri sendiri merupakan ungkapan tentang kecukupan diri. Hal inilah yang akan membangkitkan potensi dan mengerahkan kemampuannya untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan dan disukainya. Suatu hal yang membuat seseorang kehilangan rasa lapar pada saat menghadapi keinginan yang tak dapat direalisasikan, atau suatu kebutuhan yang tak mungkin dipenuhinya. Dengan ini seseorang merasa tak memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang bagi orang lain mungkin sangat mendesak
dan penting.

Dengan demikian, takut kepada orang lain – karena berbeda pendapat atau bertentangan pandangan – sudah tak lagi berarti. Sebab, dalam kondisi-kondisi seperti ini, ketakutan telah tunduk pada keinginan yang dikhawatirkan untuk tak terpenuhi. Ketika keinginan tersebut hilang, maka hilang pulalah perasaan takut dalam dirinya.

Teks-teks keagamaan melukiskan pengertian tersebut dalam gambaran yang sangat indah. Dalam sebuah percakapan, Imam Ali bin Abi Thalib mengemukakan dalam ungkapan-ungkapan singkat berikut ini: “Tamak adalah perbudakan abadi.”
“Orang tamak beradadalam ikatan kehinaan,” Dengan qana’ah cukuplah seseorang disebut sebagai memiliki (
kekayaan).”

Dan, “kekayaan yang sangat besar adalah tidak mengharap sesuatu yang ada di tangan orang lain.”

Muhammad Al-Baqir dalam sebuah fatwanya menyebutkan, “Seburuk-buruk hamba adalah orang yang memiliki ketamakan yang diperturutkan, dan seburuk-buruk hamba adalah orang yang mempunyai keinginan yang membuat dirinya terhina.”
Sementara itu Imam Ja’far Ash-Shadiq berkata, “Alangkah buruknya seorang mukmin jika dia mempunyai keinginan yang membuat dirinya menjadi hina.”

Ucapan-ucapan di atas mengungkapkan konsep bahwa ketamakan melrupakan kehinaan, kelemahan, perbudakan, dan kemiskinan, di mana seseeorang kehilangan kepercayaan dan kekuatan dirinya.

Sedangkan qana’ah dipandang sebagai kekayaan, yang di situ seorang dapat menguasai dirinya, bersikap bebas, kuat, dan merdeka dalam menghadapi orang lain.

Itulah sebabnya dakwah Islam menyatakan penentangnya terhadap ketamakan, agar dengan itu seseorang dapat menentang rasa takut yang menghancurkan, yang diakibatkan oleh ketamakannya. By Taufan Hidayat

(Republika, Kamis, 9 Maret 1995)

Iklan

Responses

  1. Sangat reflektif tulisannya Pak Dhe. Bisa jadi renungan untuk menjadi manusia buat siapa saja. Salam dan selamat berpuasa ya Pak Dhe Taufan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: