Jokes

bongkok.jpgAttention!

Kepada seluruh masyarakat Indonesia, saya menghimbau: Mulai bulan ini sampai 2009 nanti, hindari menu sbb:

– Es Beye
– Sup Kalla
– Mie Gawati
– Jus Dur
– Sayur Paloh
– Jagung Laksono
– Bakar Tanjung
– Ubi Ranto

Sebaiknya pilih menu yg SEHAT & BERMANFAAT, yakni :
Soto Yoso !!!!

___________________________________________________________________________________________

Nasruddin dan BBM

Nasruddin sedang mengendarai untanya ketika segerombolan mahasiswa melakukan aksi demonstrasi penolakan atas kenaikan BBM. Ia bergumam kepada untanya “Untung kamu tidak suka minum BBM!”

Kera Tahan Bau Nasruddin

Istri Nasruddin menginginkan binatang piaraan, maka ia membeli seekor kera. Nasruddin tidak senang.

“Apa makanannnya?” tanyanya.
“Sama dengan yg kita makan”, jawab istrinya.

“Dimana kera itu akan tidur?”
“Di tempat tidur kita, bersama kita.”

“Bersama kita? Baunya bagaimana?”
“Kalau saya saja betah dengan bau itu, saya kira kera juga tahan”.

Nasrudin dan Tiga Orang Bijak

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.

Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, “Di mana sebenarnya pusat bumi ini?”
Nasrudin menjawab, “Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara.”
“Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?” tanya orang bijak pertama tadi.
“Kalau tidak percaya,” jawab Nasrudin, “Ukur saja sendiri.”
Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.

Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. “Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?”
Nasrudin menjawab, “Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini.”
“Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?”
Nasrudin menjawab, “Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.”
“Itu sih bicara goblok-goblokan,” tanya orang bijak kedua, “Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.”
Nasrudin pun menjawab, “Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?”
Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.

Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya, “Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.” “Saya tahu jumlahnya,” jawab Nasrudin, “Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara.”
“Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanyanya lagi. “Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.”

Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut.

Sufi Menjual Kambing

Suatu malam seorang ulama Sufi bermimpi bahwa ia sedang menjual seekor kambing yang gemuk.

“Berapa harga kambing ini ?” tanya seorang calon pembeli.

“Dua belas dinar.” kata sang sufi.

“Tujuh dinar.”

“Tidak boleh.”

“Delapan dinar.”

“Tidak boleh.”

Ketika tawaran mencapai sembilan dinar, sang sufi terbangun dari tidurnya. Ia membuka kelopak matanya dan mengusapnya. Tak seekor kambingpun ia lihat. Pun tak ada calon pembeli. Cepat-cepat ia memejamkan matanya lagi sambil berkata.

“Kalau begitu, baiklah, sembilan dinar boleh kamu ambil.”

Sekalian Saja Bawa Semuanya

Nasruddin pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya. Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Nashruddin kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga kali ke warung.”

Nashruddin menjawab, “Maaf, Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus saja nanti supaya cepat beres.”

Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Nashruddin pergi memanggil dokter.Tak lama kemudian Nashruddin pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa orang lain.
Ia masuk ke kamar orang kaya itu yang sedang berbaring di ranjang, katanya, “Dokter sudah datang, Tuan, dan yang lain-lain sudah datang juga.” “Yang lain-lain? Tanya orang kaya itu. “Aku tadi hanya minta kamu memanggil dokter, yang lain-lain itu siapa?”

“Begini Tuan!” jawab Nashruddin, “Dokter biasanya menyuruh kita minum obat. Jadi saya membawa tukang obat sekalian. Dan tukang obat itu tentunya membuat obatnya dari bahan yang bermacam-macam dan saya juga membawa orang yang berjualan bahan obat-obat-an bermacam-macam. Saya juga membawa penjual arang, karena biasanya obat itu direbus dahulu, jadi kita memerlukan tukang arang. Dan mungkin juga Tuan tidak sembuh dan malah mati. Jadi saya bawa sekalian tukang gali kuburan.”

Susu dan Garam

Nasrudin dan Ali merasa haus, mereka pergi ke sebuah warung untuk minum. Karena uang mereka hanya cukup untuk membeli segelas susu maka Mereka memutuskan membagi segelas susu untuk berdua.

Ali : “kamu minum dulu setengah gelas,Karena aku hanya punya gula yang hanya cukup untuk satu orang. Aku akan menuangkan gula ini ke dalam susu bagianku.”

Nasrudin : “Tuangkan saja sekarang dan aku akan minum setengahnya.”
Ali : “Aku tidak mau. Sudah kukatakan, gula ini hanya cukup membuat manis setengah gelas susu”

akhirnya Nasrudin pergi ke pemilik warung dan kembali dengan sekantung garam.

Nasib itu Tidak Bisa Dinalar Dengan Logika

Nasrudin sedang berjalan-jalan dengan santai, ketika tanpa permisi ada orang jatuh dari atap rumah dan menimpanya. Orang yang terjatuh itu tidak terluka sama sekali, tetapi Nasrudin yang tertimpa malah menderita cedera leher. Ia pun diangkut ke rumah sakit.

Para tetangganya datang menjenguknya, mereka bertanya, “Hikmah apa yang didapat dari peristiwa itu, Nasrudin?”

“Jangan percaya lagi pada hukum sebab akibat,” jawabnya. “Orang lain yang jatuh dari atap rumah, tetapi leherku yang jadi korbannya. Jadi tidak berlaku lagi logika, ‘Kalau orang jatuh dari atap rumah, lehernya akan patah!'”


Nasrudin : “Ada berita baik. Seperti telah kita setujui, aku akan minum susu ini lebih dulu. Aku akan minum bagianku dengan garam ini.”

Orang yang Memiliki Mimpi Terindah

Nasruddin mengenakan jubah sufinya dan memutuskan untuk melakukan sebuah pengembaraan suci. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang yogi dan seorang pendeta.

Mereka bertiga sepakat membentuk tim. Ketika sampai di sebuah perkampungan, kedua teman seperjalanan meminta Nasruddin untuk mencari dana, sementara mereka berdua berdakwah. Nasruddin berhasil mengumpulkan uang yang kemudian dibelanjakannya untuk halwa.

Nasruddin menyarankan agar makanan itu segera dibagi, tapi yang lain merasa belum terlalu lapar sehingga diputuskan untuk membaginya pada malam harinya saja.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Dan ketika malam tiba, Nasruddin langsung meminta porsinya “karena akulah alat untuk memperoleh makanan itu.”

Sementara itu, yang lain tidak setuju. Sang pendeta mengajukan alasan. Karena bentuk tubuhnya yang paling bagus, maka pantaslah kalau ia yang makan lebih dulu.

Sang yogi juga menyampaikan keadaan dirinya bahwa ia hanya makan sekali dalam tiga hari terakhir ini. Karenanya harus mendapat bagian yang lebih banyak.

Akhirnya mereka putuskan untuk tidur dengan sebuah janji bahwa yang malamnya bermimpi paling bagus, boleh makan halwa lebih dulu. Begitu bangun, sang pendeta bilang: “Dalam mimpi aku melihat pendiri agamaku membuat tanda salib. Itu berarti aku telah memperoleh berkah istimewa.”

Yang lain merasa amat terkesan, tapi kemudian sang yogi menyambung: “Aku mimpi pergi ke Nirwana, tapi tidak menemukan apa-apa.”Sekarang giliran Nasruddin.

“Aku mimpi bertemu seorang guru Sufi, Nabi Khidir, yang hanya muncul di depan orang yang paling suci. Ia berkata: ‘Nasruddin, makanlah halwa itu sekarang juga!’ Dan, tentu saja, aku harus mematuhinya.”

Belum Pernah Melihat Orang Tolol

Nasrudin membawa serantang makanan dari pasar. Karena kurang hati-hati, rantang itu jatuh dan isinya tumpah berantakan. Segara saja datang orang-orang berkerumun.

“Hai para tolol,” teriak Nasrudin sambil memungut rantang-rantangnya, “Apa kalian belum pernah melihat orang tolol?”

Mulai Kursus Musik

Pada suatu hari Nasrudin mendengar ada seorang muda yang bisa bermain musik dengan amat bagus. Ia pun tertarik untuk belajar musik.

Keesokan harinya, ia pergi ke kota dan menemui guru musik kenamaan. “Tuan, saya ingin belajar musik, berapa bayarannya?”

Guru itu sejenak melihat wajahnya, sebelum akhirnya menjawab, “Murid-muridku membayar tiga dirham untuk bulan pertama, dan kemudian untuk tiap bulan berikutnya membayar satu dirham. Nasrudin berpikir sejenak dan kemudian berkata,

“Baiklah,” katanya, “Saya akan mulai kursus pada bulan kedua saja.”

Bangun Lebih Pagi Setiap Hari

“Nasrudin, anakku, biasakanlah bangun pagi setiap hari.”

“Kenapa, ayah?”

“Itu kebiasaan bagus. Dulu ayah pernah bangun pas dini hari trus keluar jalan jalan. Dan ayah nemu sekantong emas.”

“Bagaimana ayah tahu itu bukan punya orang yang kehilangan malam sebelumnya?”

“Oh, itu bukan point nya. Walau bagaimanapun juga kantong itu tidak ada disitu malam sebelumnya. Ayah ingat bener.”

“Jadi kalo gitu, bangun pagi pagi gak bagus buat semua orang dong. Orang yang kehilangan sekantung emas itu pastilah bangun lebih pagi dari ayah.”

Mengawasi Pintu Supaya Tidak Ada Pencuri

Suatu hari Nasrudin kecil ditinggal ibunya untuk pergi ke rumah Ibu RT. Sebelum pergi ibunya berkata kepada Nasrudin, “Nasrudin, kalau kamu sedang sendirian di rumah, kamu harus selalu mengawasi pintu rumah dengan penuh kewaspadaan. Jangan biarkan seorang pun yang tidak kamu kenal masuk ke dalam rumah karena bisa saja mereka itu ternyata pencuri!”

Nasrudin memutuskan untuk duduk di samping pintu. Satu jam kemudian pamannya datang. “Mana ibumu?” tanya pamannya.

“Oh, Ibu sedang pergi ke pasar,” jawab Nasrudin.

“Keluargaku akan datang ke sini sore ini. Pergi dan katakan kepada Ibumu jangan pergi ke mana-mana sore ini!” kata pamannya.

Begitu pamannya pergi Nasrudin mulai berpikir, “Ibu menyuruh aku untuk mengawasi pintu. Sedangkan Paman menyuruhku pergi untuk mencari Ibu dan bilang kepada Ibu kalau keluarga Paman akan datang sore ini.”

Setelah bingung memikirkan jalan keluarnya, Nasrudin akhirnya membuat satu keputusan. Dia melepaskan pintu dari engselnya, menggotongnya sambil pergi mencari ibunya.

Aku Rasa Engkau Benar

Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa.

Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:

“Aku rasa engkau benar.”

Nyebarin Roti Biar Macan Gak Datang

Nasrudin lagi sibuk nyebarin serpihan serpihan roti di sekeliling rumahnya.

“Eh, lagi ngapain loe?” tanya seseorang
“Oh, ini biar macan pada gak datang ke mari.”
“Lho, tapi kan gak ada macan di daerah sini.”
“Tuh kan. Gue bilang juga ape.. beneran berhasil, kan?”

Si Tolol dan Si Bijak

Seorang tolol merupakan panggilan bagi orang biasa, yang
senantiasa salah menafsirkan apa yang terjadi atasnya, apa
yang dikerjakannya, atau apa yang dilakukan orang lain. Ia
melakukan semuanya itu begitu meyakinkan sehingga bagi
dirinya dan orang-orang semacamnya segi kehidupan dan
pemikiran yang luas tampak masuk akal dan benar.

Seorang tolol semacam itu pada suatu hari disuruh membawa
kendi menemui seorang bijaksana untuk meminta anggur. Di
tengah jalan, karena kecerobohannya Si Tolol itu
membenturkan kendinya ke batu, dan pecah.

Ketika ia sampai dirumah orang bijaksana itu, ia memberikan
pegangan kendinya, katanya, “Tuan Anu menyuruh saya
memberikan kendi ini kepada Tuan, tetapi di tengah jalan ia
dicuri batu.”

Karena terhibur dan ingin mendengar seluruh ceritanya, orang
bijaksana itu bertanya.

“Karena kendi itu telah di curi, kenapa kau berikan kepadaku
pegangannya?”

“Saya tidak setolol yang disangka orang,” kata Si Tolol itu,
“oleh karena saya membawa pegangan kendi ini untuk
membuktikan kebenaran ceritaku.”

Catatan:
Suatu pokok pembicaraan yang banyak beredar di kalangan guru
darwis adalah bahwa kemanusiaan umumnya tidak bisa
membedakan suatu kecenderungan tersembunyi di balik
peristiwa-peristiwa, yang mestinya memungkinkannya
memanfaatkannya sepenuh-penuhnya. Mereka yang mampu melihat
kecenderungan itu disebut Sang Bijaksana, sementara orang
kebanyakan disebut “tidur,” atau di panggil Si Tolol.

Kisah ini, yang dalam Bahasa Inggris dikutip oleh Kolonel
Wilberforce Clarke (Diwan-i-Hafiz) merupakan salah satu
contoh khas. Dengan menyerap ajaran itu lewat tokoh dan
kisah yang dilebih-lebihkan, orang-orang tertentu mampu
benar-benar “memekakan” diri untuk menangkap kecenderungan
tersembunyi itu.

Kutipan ini berasal dari kumpulan kisah Sufi yang dikerjakan
oleh Pir-i-do-Sara, “Yang mengenakan Jubah Bertambal” yang
meninggal tahun 1790 dan dimakamkan di Mazar-i-Sharif,
Turkestan.

______________________________________________________________

heads.jpgKitab Harta & Kitab Cinta

Amr Ibnu ‘Utsman
Abu ‘Abdullah ‘Amr ibim ‘Utsman al Makki adalah salah seorang murid Al Junaid. Ia mengunjungi Ishfahan dan meninggal dunia di Baghdad pada Tahun 291 H/904 atau 297 H/910M.

‘Amr ibnu ‘Utsman al Makki dan Kitab Harta
Dikisahkan bahwa suatu, hari ‘Amr bin Utsman al Makki rnenulis terjemah Kitab Harta pada kertas. la menyimpannya di bawah sajadahnya lalu pergi untuk berwudlu.

Saat ia tengah berwudlu, desas-desus (bahwa rumahnya kemalingan) sampai padanya, dan ia pun segera menyuruh pembantunya untuk mengambil Kitab Harta itu.
Ketika pembantunya mengangkat sajadah ‘Amr, ia tidak menemukan kertas terjermahan itu. la pun melapor .
‘Amr ibnu ‘Utsman berkata, “Para pencuri mengambilnya dan mereka telah pergi.”

Kemudian ia menambahkan, “Orang yang mengambil terjemahan kitab harta itu., tangan dan kakinya akan segera terpotong. Ia dihukum gantung, jenazahnya akan dibakar abunya akan ditebarkan ke udara. Pastilah ia. Telah sampai pada harta itu, karena ia telah mencuri Kitab Harta.”
Diantara isi dari Kitab Harta.

“Pada saat ruh memasuki tubuh Adam, Allah memerintahkan seluruh malaikat untuk sujud di hadapan Adam. Seluruh malaikat pun sujud.
Iblis berkata, “Aku tidak akan sujud. Aku akan mempertaruhkan hidupku, dan aku akan melihat rahasia, walaupun untuk itu aku dikutuk, dijuluki perndurhaka, pendosa, dan munafik.’

Iblis tidak sujud. ‘Maka ia pun melihat dan mengetahui rahasia, manusia. Akibatnya, Iblis adalah satu-satunya yang mengetahui rahasia manusia. Begitu pula, manusia adalah satu-satunya yang mengetahui rahasia Iblis.
Iblis mengetahui rahasia manusia karena ia tidak sujud, demikian hingga ia merasa bahwa dirinya sibuk melihat rahasia itu.
Iblis ditolak oleh semua manusia, karena mereka telah memperlihatkan harta itu kepadanya. Mereka berkata, “Kami menguburkan harta itu kedalam tanah.”
Kondisi yang melekat pada harta itu ialah bahwa seseorang akan melihatnya, namun mereka akan memenggal kepalanya sehingga ia tidak akan membocorkannya.

Iblis memekik, “Dalam hal ini, berilah Aku tangguh. Jangan bunuh aku. Akulah orang yang melihat harta itu. Mereka memperlihatkan harta itu kepadaku, dan kedua mataku ini tak akan luput.”
Pedang Aku Tidak Peduli berfirman, “Sesungguhnya engkau termasuk mereka yang diberi tangguh.

Kami memberimu tangguh, namun Kami membuatmu lekat dengan kecurigaan. Kami tidak akan menghancurkanmu, namun engkau akan menjadi orang yang dicurigai dan menjadi seorang pembohong.
Tiada seorang pun yang akan menerimamu sebagai Penyeru kebenaran. Mereka akan berkata, ‘Dia adalah dari golongan jin, dan ia mendurhakai perintah Tuhannya.”
la adalah Setan. Bagaimana ia dapat berkata benar? Karena itulah ia dikutuk, ditolak, ditinggalkan, dan diabaikan.
Begitulah terjemahan Kitab Harta oleh ‘Amr ibnu ‘Utsman.

‘Ami ibnu ‘Utsman tentang Cinta
Dalam Kitab Cinta-nya, ‘Amr ibnu ‘Ultsman menyatakan :
Allah Yang Mahakuasa menciptakan hati (kalbu, qalb) tujuh ribu tahun sebelum jiwa (nafs), dan Dia menyimpannya di Taman Keintiman.
Dia menciptakan rahasia (sirr) tujuh ribu tahun sebelum kalbu, dan menyimpannya di Derajat Penyatuan.
Setiap hari, Allah membuat jiwa menerima 360
Pandangan kemuliaan dan mendengar 360 kata cinta.
Setiap hari, Dia mewujudkan 360 kesenangan keintiman untuk kalbu.
Setiap hari, 360 kali Dia menyingkapkan keindahan kepada rahasia.
Maka mereka melihat segalanya di dunia keberadaan, dan mengetahui bahwa tiada yang lebih berharga dibandingkan dengan mereka.
Kesombongan dan kecongkakan mewujud diantara mereka.Karena itu, Allah menguji mereka. Dia memenjarakan rahasia di dalam jiwa. Dia mengurung jiwa di dalam kalbu. Dan Dia menawan kalbu di dalam tubuh. Lalu Dia memberi mereka akal.
Allah mengutus para nabi dengan membawa hukum-hukumNya. Lalu masing-masing dari mereka mencari maqam-nya yang tepat.
Allah memerintahkan mereka untuk berdoa. Maka tubuh pun berdoa, kalbu meraih cinta, jiwa menggapai kedekatan, dan rahasia tenang dalam penyatuan.

Surat ‘Amr ibnu ‘Utsman kepada Junaid
Ketika ‘Amr ibnu ‘Utsman sedang berada di Makkah, ia menulis surat kepada Junaid, Jurairi, dan Syibli di Irak. Berikut ini adalah suratnya.
“Ketahuilah bahwa kalian adalah orang-orang besar dan tetua Irak. Katakanlah pada setiap orang yang merindukan tanah Hijaz dan keindahan Ka’bah, ‘Kalian tidak akan pernah mencapainya, kecuali dengan penderitaan roh yang sangat.’ Dan katakanlah pada setiap orang yang, merindukan Primadani Kedekatan dan Istana Kemuliaan, ‘Kalian tidak akan pernah mencapainya, kecuali dengan penderitaan jiwa yang sangat.”

Di penghujung suratnya, ‘Amr menulis, “Ini adalah surat dari ‘Amr ibnu ‘Utsman al Makki dan para tetua Hijaz yang semuanya bersama-Nya, di dalam-Nya, dan dengan-Nya. Jika ada seseorang di antara kalian bercita-cita tinggi, katakanlah padanya, “Titilah jalan ini, di mana terbentang dua ribu gunung berapi dan dua ribu lautan penuh badai dan bahaya. Jika engkau belum sampai pada tingkatan ini, janganlah membuat alasan-alasan palsu, karena alasan palsu tak menghasilkan apa-apa.’
Ketika surat itu sampai kepada Junaid, ia mengumpulkan para tetua Irak lainnya (Jurairi dan Syibli) dan membacakan surat itu di hadapan mereka.
Lalu Junaid berkata, “Ayo, katakanlah, apa yang ia maksud dengan gunung-gunung ini?”
Mereka menjawab, “Yang ia maksud dengan gunung-gunung itu adalah penihilan.
Seseorang tidak akan mencapai Istana Kemuliaan sampai ia menihil seribu kali dan menjadi kembali seribu kali.”
“Dari dua ribu gunung berapi itu,” ujar Junaid, “hanya satu yang telah kulalui.”

“Engkau beruntung telah melalui satu gunung,” tutur Jurairi. “Sedangkan aku, sampai saat ini baru berjalan tiga langkah.”
Syibli bercucuran air mata mendengar ucapan kedua sahabatnya itu. “Junaid, engkau beruntung karena telah melewati satu gunung,” pekiknya.
“Dan engkau juga beruntung, wahai Jurairi. Engkau telah berjalan sejauh tiga langkah. Sementara aku, sampai saat ini bahkan belum melihat debunya. dari kejauhan.”[]

Iklan

Responses

  1. Mencerahkan. Saya pikir blog ini harus terjus dikembangkan. Banyak manfaat buat manusia-manusia yang gersang macam aku. Thanks Taufan.

  2. kwek..e..e..e….
    I LOVE YOU

  3. I LOVE YOU

  4. kitab harta dan kitab rahsia…….
    suatu kata-kata tariqat yg berupa mutiara untuk mendapat suatu perjalanan tariq yg tiada hujungNya serta penanaman cintai pd akhirat syurga…..

  5. Allah….huakbar….
    Allah….huakbar….
    Allah….huakbar….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: