Self Portrait

copy-of-ihiiiiiiiiii.jpg Taufan Hidayat, lahir di Pati, pada akhir 1963, di sebuah kampung Kaliampo, desa Wangunrejo, tujuh kilometer dari pusat Kota Pati, yang berbatasan dengan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masa kecil dilewatinya, sebagaimana anak-anak kecil di kampung, lebih banyak bermain-main. Tapi, di samping ikut dalam keriuhan permainan tradisional anak-anak kampung, tak lupa, masih juga menyempatkan membantu orang tua berjualan warung kopi di pinggir jalan utama daendles. Warung kopi inilah urat nadi orang tua dalam membiayai anak-naknya. Perjalanan kanak-kanak hampir-hampir tak ada orientasi pendidikan. Tak ada yang perlu disesali, semua telah menjadi sejarah.

Tak pernah melewati pendidikan TK. Boro-boro TK, SD pun dilewatinya dengan dengan kaki telanjang, tanpa sandal, apalagi sepatu. Ketika musim hujan tiba, kaki pun penuh dengan lumpur, dengan berpayung pelepah pisang atau daun talas. Kadang buku-buku pelajaran yang tersimpan dalam tas plastik basah karena daun yang buat berpayung terlalu kecil. Apa pun dan bagaimana pun, masa kanak-kanak sangat menyenangkan.

SMP. Inilah pertama kali mengenal sepatu. Inilah pertama kali mengenal peradaban kota. Inilah pertama kali mengenal adanya persaingan hidup. Masuk ke SMPN 4 Pati adalah karena takdir, tak ada pilihan. Takdir karena kakak saya pernah sekolah di situ, yang sebelumnya adalah SMEP.

SMA. Inilah pertama kali mengenal kehidupan. Inilah pertama kali mengenal persahabatan. Inilah pertama kali mengenal cinta (monyet). Masuk di SMA Al-Ma’ruf, Kudus, bukan karena takdir tapi karena tak ada pilihan. Begitu selesai sebenarnya ingin masuk ke SMA Negeri, tapi karena kurang cerdas dan tak punya uang, akhirnya masuklah ke SMA papan bawah (saat itu). Sebenarnya sih tidak bodoh-bodoh amat, tapi karena tidak ada tradisi belajar yang baik sejak kecil, maka jadilah orang yang biasa-biasa saja dalam setiap pembagian raport tiap semesternya. Tapi, aneh bin ajaib, SMA Islam Al-Ma’ruf menganugarahi saya sebagai juara umum ketika malam pembagian ijazah. Benar-benar saya tidak mempercayai. Ajaib.

KULIAH. Berani kuliah sebenarnya nekad, benar-benar bonek. Lebih-lebih tidak diterima di PTN. Tahun pertama di Jogja, kuliah di ABA (Akademi Bahasa Asing) sambil ikut nyantri di Pondok Pesantren Krapyak. Di pesantren pun sebenarnya nekad, karena pada akhirnya harus keluar karena tidak mampu membayar uang gedung Pesantren, meskipun tetap jadi santri kalong dan ngekos di sekitaran Krapyak. Tahun kedua ikut perjudian UMPTN, dan akhirnya diterima di IKIP (Jurusan Bahasa Perancis), juga diterima di IAIN Sunan Kalijaga. NEKAD. Dua-duanya saya ambil. Karena mempertimbangkan jarak akhirnya pindah mencari tempat untuk mendekati kedua kampus tersebut, dan akhirnya terdamparlah di Pondok Pesantren Wahid Hasyim. Untuk transportasi, saya membawa sepeda dari Pati. Sepeda ini saya naiki sendiri dari Pati ke Jogja, lewat Sukolilo, Purwodadi, Sragen, Solo, Klaten, akhirnya sampailah Jogja dengan keringat membanjir.

JOGJA memang menampung segala macam gaya hidup. Dan bagi mahasiswa yang bermodal nekad, tak ada pilihan lain kecuali prihatin. Dan kalau bicara soal keprihatinan, hampir-hampir tak bertepi. Karena itu pula, di IKIP pun bertahan cuman satu tahun. Masuk di IAIN, sebenarnya bukan pilihan, karena mahasiswa yang berlatar belakang pendidikan umum seperti saya, pasti ketinggalan dalam segala hal, terutama Bahasa Arab, dasar dari segala ilmu keislaman. Pada awalnya saya berusaha untuk mengejar segala ketertinggalan, tapi rupanya, problem ekonomi sangat melilit dari hari ke hari. Karena merasa sudah masuk dalam perangkap, akhirnya pun selesai juga di Fakultas Syariah itu.

Awal kehidupan di Jogja, saya sebenarnya mencoba bertahan hidup dengan berbagai cara. Pernah mencoba sebagai sales, tapi rupanya tak memiliki mental yang cukup kuat dalam bidang ini. Pernah juga mengajar part time, tapi juga tak bertahan lama. Akhirnya saya mencoba menekuni bidang tulis-menulis. Sejak SMA saya sudah memiliki minat dalam bidang ini, saya pernah mendapat honor beberapa kali dari majalah Dewi. Bibit itulah yang saya coba kembangkan lagi. Tulisan pertama saya dimuat di Kedaulatan Rakyat. Akhirnya saya sadar, inilah barangkali dunia saya. Sejak saat itulah tulisan-tulisan saya menghiasi berbagai media di Jogja, bahkan media nasional. Saya bukan seorang pengarsip yang baik, tapi seingat saya tulisan-tulisan saya pernah dimuat di Kompas, Bisnis Indonesia, Suara Karya, Suara Pembaruan, Republika, Pikiran Rakyat, Masa Kini, Bernas, Suara Merdeka, Surabaya Post, Jakarta-Jakarta, Gatra, dll. Dalam dunia tulis-menulis, jujur, saya berangkat dari tuntutan ekonomi. Meski pada perkembangannya diwarnai dengan berbagai bacaan dan interaksi dengan teman-teman di Jogja, mungkin juga kegelisahan-kegelisahan sebagai anak muda yang hidup pada puncak-puncaknya kejayaan Orde Baru. Saya kadang iri dengan teman-teman yang memiliki latar belakang pendidikan yang bagus (sejak dari masa kanak-kanak), ekonomi yang cukup, dan gairah belajar yang kuat. Tapi rasa iri ini selalu kubunuh. Saya harus pandai mensyukuri apa yang saya peroleh, juga apa yang telah ditakdirkan Tuhan, tanpa harus pasrah pada keadaan. Saya tidak boleh mengeluh. saya selalu yakin, Tuhan Mahaadil.

Jogja menyimpan banyak kisah. Jogja juga menyimpan banyak puisi. Tapi hidup juga laksana air. Harus bergerak, harus berpindah-pindah ruang. Sekali di langit terbawa angin sebagai awan, sekali waktu berada ditengah lautan terbawa ombak, kadang di tengah telaga yang hening dan bening, acapkali sebagai banjir yang meluluh lantakkan kehidupan. Begitulah kehidupan.

EPISODE Jogja tlah ditutup. Masuk ke Bandung (1992) ibarat layang-layang putus terbawa angin. Masuk sebagai karyawan sebuah penerbitan buku, yang telah dikenal luas sebagai trend setter pemikiran Islam pada saat itu, ada rasa bangga bercampur cemas. Bangga karena ikut masuk ke dalam dapur sebuah penerbitan yang akan menjadi perbincangan dan diskusi trend pemikiran Islam modern di kalangan kaum cendekiawan. Cemasnya, karena di Bandung adalah kota yang sama sekali masih asing buat saya. Kalu bisa memilih, Jakarta masih lumayan kupahami kulturnya daripada Bandung. Lebih mencemaskan lagi, saya masuk dalam formasi marketing. Sebuah jabatan yang jauh dari latar belakang pendidikan saya. Meski demikian, saya jalani saja takdir ini. Belum genap satu tahun menduduki jabatan itu, akhirnya, saya dimutasikan ke bagian redaksi. Sebuah posisi yang memang terbayangkan ketika saya masuk dan bergabung dengan Penerbit Mizan. Dengan segala suka dan dukanya, saya bekerja di Mizan hampir lima tahun. Di sini saya bisa bekerja, saya bisa belajar. Saya banyak berhutang budi padanya.

Perjalanan terus berlanjut. Dalam banyak hal, saya bukanlah tipe “pemberani”. Keluar dari Mizan pun bukan keberanian mengambil keputusan untuk berspekulasi. Saya pindah ke Grafindo karena diajak teman. Di Grafindo saya belajar tentang banyak hal. Pada awal pertama masuk, saya diberi wewenang yang lumayan fantastis, dan karena itulah mungkin adrenalinku terpacu. Pelan-pelan saya mencoba memahami soal-soal leadership, juga aspek-aspek industri perbukuan. Hanya mungkin karena aura atau ketidakcocokan visi, saya terpaksa bisa bertahan satu tahun di tempat ini. Tapi, apa pun, tempat ini telah memberikan pelajaran dalam perjalanan hidup saya. Kata orang bijak, belajarlah di mana pun kamu berada. belajarlah meski dari mulut penjahat. Keluar dari Grafindo Grup, saya melompat ke Rosda. Ini juga karena diajak teman. Di sini juga tak lama. Satu tahun, bahkan mungkin kurang.

Saya tak pernah mimpi punya usaha sendiri, bahkan pada saat di usia saya yang tlah hampir berkepala 4 pada saat itu. Tanpa saya sadari, pelan tapi pasti, dunia penerbitan buku telah membimbingku ke arah itu. Banyak orang yang telah mengajariku, yang pada awalnya saya tak tahu apa pun tentang dunia ini. Saya merasa berhutang budi pada mereka semua. Saya yakin, setiap orang memiliki kecakapan yang unik. Dan karena itu pula, dia harus mengerti kecakapan itu dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Kita pun menghargai orang lain dengan sikap seperti itu juga.

BERSAMBUNG…

Responses

  1. wah sepertinya angkatan mas ku sampeyan…tapi dapet kesejukan lain baca blog sampeyan….kalau boleh saya link ya di blog saya
    http://budibill.wordpress.com/

    thanks

    Mas,
    Apa kbr, lama tak bertegus sapa?

  2. Halo Pak Taufan Hidayat. Seneng bisa mampir ke blog njenengan.

    Gimana kalo saya mendukung njenengan untuk mimpin masyarakat Pati? Suer lho Pak, mbonten becanda 🙂

    Salam,
    Apa kbr mas? Bbrp waktu lalu saya buka blog njenengan. Saya punya usaha kecil yang tampaknya perlu sistem akunting/marketing. Bisa bantu tdk mas? Thx

  3. Pak Taufan, blognya menarik nih. Boleh tukeran link ya… 😀 http://andra.web.id

    Piye Kabare Ndra, isih aktif nang milis wong Pati. Aku wis metu je.

  4. sementara aku blom bisa bri komentar blogmu. masih pusing bung, kayak gasing. yg jelas, brapa jam tuh eloe habisin waktu masuk salon untuk potret biar keliatan lebih muda?

    hmmmmmmmmmm………… Hanya itu kawan

  5. Mas, senang dan terharu membaca Self Portrait ini. Mengayuh sepeda dari Pati ke Jogja? Wah, kayaknya aku gak sanggup deh. Kesimpulanku: kegigihanlah yg mengantarkan seseorang menuju puncak.

  6. Mas, sekian lama aku pengen singgah di sini, terlalu banyak alasan klasik yang musti dilewati dulu…hehehe. Alhamdulillah, hari ini bisa terkabulkan. Semangat antum yang berkobar sangat terasa hingga ke tempatku…

  7. wou, mengesankan mas. kayaknya kalo dibikin novel sangat menarik. ‘wong ndeso yang berhasil menaklukkan bandung’. insyaallah inspiratif. bukan untuk ikut-ikutan latah dengan laskar pelangi lho. sekedar dokumentasi untuk anak cucu.

  8. salam kenal mas, seneng mersani blog panjenengan…

  9. Sudah hasti baca


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: